Para guru SDIT Miftahul Ulum, Sabtu (2/8), berbondong-bondong menuju aula. Antusiasme terpancar jelas dari raut wajah mereka, siap untuk menyelami dunia deep learning. Pelatihan ini dibuka oleh sambutan hangat Kepala Sekolah SDIT Miftahul Ulum, Dedy Susanto, yang secara lugas menuturkan bahwa deep learning sebenarnya bukan hal asing. “Guru-guru pasti sudah sering menerapkannya, hanya saja istilahnya yang mungkin baru terdengar,” ujarnya.
Sesi pelatihan kali ini dibawakan oleh Ferdinal Lafendry, seorang Great Teacher Trainer, praktisi pendidikan, dan juga dosen. Lulusan Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dikenal memiliki pengalaman mumpuni dalam melatih para guru. Cita-citanya sederhana, yaitu menjadikan setiap guru sebagai pendidik terbaik yang juga berkarakter seorang pelatih.
Dalam praktiknya, deep learning mengajak kita untuk menumbuhkan kesadaran pada peserta didik. Mereka harus merasa bahwa keberadaannya diakui sebagai manusia seutuhnya, tanpa dibeda-bedakan. Dengan kata lain, semua peserta didik memiliki kedudukan yang setara.
Pembelajaran yang berlandaskan deep learning juga harus mampu membuat peserta didik merasakan manfaat nyata dari setiap materi yang mereka ikuti. Bukan sekadar menjejali teori, tetapi juga memberikan pengalaman yang kaya agar mereka bisa menyimpulkan sendiri pelajaran yang didapat. Konsep ini menuntut adanya keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya, yang pada akhirnya akan mendorong peserta didik untuk menciptakan sebuah proyek dan memecahkan masalah.
Agar deep learning dapat terlaksana secara optimal, para guru diharapkan terus memperkaya wawasan mereka tentang berbagai pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Memahami sintaks atau tahapan-tahapan yang ada menjadi kunci untuk mewujudkan proses belajar-mengajar yang mendalam dan bermakna. (hes50)